[Cerpenya Sony Asgar]

My Photo
Name:
Location: Bandoeng, Jawa Barat

Wednesday, October 11, 2006

Bapaku Mata-Mata Musuh

Friends, ini cerpen merupakan cerpen terjemahan saya yang pertama. Aslinya ditulis dalam bahasa sunda, dan saya terjemahkan bebas ke dalam bahasa indonesia. Penulisnya aslinya tokoh sunda R.A.F alias Rahmatullah Ading Affandi. Cerpen yang sangat menarik dan menyentuh, selamat menikmati


Bapakku Mata-Mata Musuh
Oleh : R.A.F


“SUR, Bapak di mana? Sur, Bapak di mana?” Anak-anak kecil mengolok-olok si Mansur, orang yang hilang ingatan.
“Hey Sur, mana Bapakmu ?”
“Bapakku mata-mata musuh! Bapakku mata-mata musuh!” Si Mansur menjawab berulang-ulang sambil memukul-mukulkan tongkat yang dibawanya. Serta merta anak-anak menghambur berlarian sambil tertawa-tawa. Ketika sudah jauh, anak-anak itu bertanya lagi, mengolok-ngolok lagi.
“Sur, Bapakmu mana ?”

Mansur menjawab lagi, memukul-mukulkan tongkat lagi, anak-anak berhamburan lagi, lari lagi, mengolok-olok lagi. Begitu terus, begitu terus. Semakin jauh, semakin jauh. Suara tertawa anak-anak semakin nggak jelas. Hanya terdengar sayup-sayup terbawa angin. Yang masih agak jelas, suara keras si Mansur : “Bapakku mata-mata musuh !, Bapakku mata-mata musuh !” Kasihan…

Anak-anak kecil itu tidak ada yang tahu apa arti kata-kata si Mansur. Anak-anak itu hanya senang bersorak-sorai, serasa ada permainan baru. Senang kalau si Mansur menjawab, mengejar sambil memukul-mukulkan tongkat.

Oleh olok-olok lain si Mansur tidak pernah merasa terganggu. Tapi kalau ditanya perihal bapaknya, sedang apapun juga, dia akan mengejar, memukul-mukulkan tongkat sambil berteriak : “Bapakku mata-mata musuh!”

Sesungguhnya hampir semua orang di kampungku sudah tahu cerita tentang si Mansur. Semua tahu bahwa kurang warasnya si Mansur bukan bawaan semenjak lahir. Bukan gila dari kanak-kanak. Kalau saya melihat dia sedang ‘jadi’, saya cuma bisa geleng-geleng kepala sambil baca istigfar, atau ber ck…ck…ck…sambil menggerendeng : “Kasihan sekali, kasihan sekali….” Atau paling tidak memarahi anak-anak nakal itu, “Anak-anak! jangan digangguin !!”

* * *

Namanya Mansur. Dia sendiri tidak tahu kenapa nama dia Mansur. Anggapannya nama itu sangat jelek. Waktu kecil dia pernah mengusulkan ke bapaknya supaya namanya diganti menjadi Iskandar.

“Supaya agak enak kedengarannya,” begitu katanya.

Mendengar usul seperti itu bapaknya hanya tersenyum simpul.

“Orangtuaku nggak tau nama yang bagus,” kata si Mansur kepada temannya.

Apa sebabnya dia menganggap namanya jelek, tidak ada yang tahu. Bahkan dia sendiripun tidak akan bisa menjawab kalo ada yang bertanya; jelek bagian mananya ? Yang jelas dia merasa namanya tidak sesuai dengan nama orang kebanyakan. Berbeda dengan bapaknya, dia tahu sekali sebab musabab anak tunggalnya itu dikasih nama Mansur.

Katanya : “ Ngasih nama anak itu bukan pekerjaan main-main. Nggak bisa dipikir sambil nguap. Harus dihitung dulu. Nggak bisa sembarangan.”
“Jangankan untuk ngasih nama manusia, ngasih nama kambingpun nggak bisa seenaknya. Harus dihitung weton-nya, harus dihitung untung ruginya.”
“Sebetulnya saya ngasih nama ke anak saya begini,” bapaknya meneruskan ceritanya. “Awalnya dihitung dulu sejarah anaknya, dari mulai lahir ke dunia sampai besar, sampai dewasa. Mansur itu kata dari bahasa arab. Kita ini orang islam. Jadi sudah seharusnya kalau nyari nama ngambil dari bahasa arab. Itu termasuk sebagian dari Iman, mahabah ke Nabi. Karena Nabi kita semua lahirnya di Arab.”

Panjang cerita tentang ini. Dia sampai sempat-sempatnya membaca salah satu ayat dari surat Yusuf. Susah ngikutinnya. Yang saya inget hanya ketika dia menerangkan ilmu sharaf-nya. Katanya : “ Mansur itu isim maf’ul, dari fi’il nasoro, artinya menolong. Begini nih : nasoro-yansuru-nasron-fahuwa nasirun-wadza-ka mansurun. Nah ketemu juga, jadi Mansur itu isim maf’ul artinya yang ditolong. Karena menurut sejarahnya si Mansur hidup karena banyak pertolongan.”

“Dari sejak dikandung begitunya. Ibunya sedang ngidam, dia bener-bener kepengen makan sayur rebung, nggak bisa diganti sama yang lain. Pernah nyari kesana-kemari, tapi nggak tau kenapa yang diinginkan ibunya itu nggak pernah saya temukan. Kebetulan, di atas kereta saya ketemu dengan orang yang bawa rebung dalam keranjang. Malu-malu juga akhirnya memberanikan diri, ibaratnya sambil nangis-nangis minta nuker rebung yang dibawanya. Sepertinya dia kasihan sama saya, terus dia ngasih. Katanya : nggak usah dibayar, ini hanya menolong, nggak ada niatan untuk jual beli.”
“Baru tujuh bulan lewat sedikit, anak itu lahir. Susah sekali, kelahiran pertama, susah pula lahirnya. Celakanya, sebelum jabang bayi lahir, ibunya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Segitu juga alhamdulillah, karena meninggal ketika melahirkan dengan ridlo. Itu jadi keuntungan, tergolong orang yang syahid. Orang yang mati syahid itu terbebas dari siksa kubur. Di akhirat masuk sorga, nggak ke tempat lain.”

“Bagusnya tertolong oleh dokter yang kebetulan sedang bertugas di desa. Bayi lahir dengan selamat. Hidup, meskipun sangat mengkhawatirkan. Kalau menurut peribahasa, cuma sebesar tangan. Alhamdulillah! Disusui oleh bibinya. Bayi tumbuh tanpa banyak diganggu penyakit. Nah, karena itulah, karena hidupnya banyak dari pertolongan orang, sepertinya nama Mansur nama yang paling pas buat dia, dengan harapan untuk seterusnya dia dapat pertolongan dari Yang Maha Suci,” demikian cerita bapaknya.

***

Penampilannya tidak ada yang aneh, biasa saja seperti orang kebanyakan. Kulitnya agak hitam, hidungnya agak pesek, matanya jernih, menandakan otaknya lumayan berisi.

Ada sifat yang sangat baik dari diri si Mansur itu. Dia punya keteguhan hati yang sangat kuat. Kalau punya pendapat, susah digoyahkan oleh orang lain. Si Mansur jarang sekali menjilat ludah, tidak mudah merubah omongannya. Selalu tepat janji. Omongannya bisa dipercaya. Kalau kata dia hitam, susah untuk merubahnya jadi putih atau abu-abu.

Itu sebabnya dari semenjak kecil dia dipercaya orang lain. Sifat-sifat lainnya tidak ada yang aneh, sama saja dengan orang kebanyakan. Dan memang, si Mansur itu bukan orang istimewa, sama saja dengan orang-orang lain.

Disiplin ala Seinenden jaman Jepang semakin menguatkan watak si Mansur. Di tambah oleh jiwa militer, si Mansur semakin berani dan tau akan kewajiban dirinya.

Tidak ada satu perkara jelek yang sama sekali tidak ada baiknya, juga tidak ada satu perkara baik yang tidak ada jeleknya sama sekali. Pun dengan jaman Jepang. Yang menyengsarakan dan menyusahkan, tapi tidak sedikit juga memberikan modal untuk perjuangan kemerdekaan. Jaman Jepang melahirkan manusia militer yang penuh keberanian, yang tahu akan arti berjuang. Seperti si Mansur contohnya.

Waktu mulai revolusi, dia benar-benar menjadi pelopor, berani maju ke depan membela kebenaran. Bukti-bukti dari pertempuran kecil melawan Jepang, jelas-jelas menunjukkan kalo si Mansur orang yang berani dan tegas. Sesuai dengan sifatnya : keteguhan hatinya sulit dirubah-rubah.

***

Revolusi artinya bukan kekacauan atau keributan. Keributan dan kekacauan hanya merupakan hal-hal yang biasa terjadi dalam revolusi. Hampir tidak ada revolusi tanpa kekacauan dan keributan.

Juga yang di alami oleh kita. Sampai akhirnya korban yang timbul dari revolusi biasa disebut korban revolusi. Kadang suka membingungkan, susah membedakannya, yang mana korban perjuangan dalam membela kemerdakaan dan yang mana korban kekacauan waktu revolusi.

***

Waktu itu tengah malam. Gelap gulita, hujan turun semenjak siang, tidak sekejappun berhenti. Di rumah dekat Kaum, para pemuda sedang berkumpul, mendiskusikan masalah perjuangan.

“Saudara-saudara, kita memegang tanggung jawab yang sangat besar,” Burhan yang menjadi pemimpin memulai pembicaraan.
“Perjuangan ada di tangan pemuda. Kita harus berani bertindak. Saat ini secara langsung kita tidak berhadapan dengan musuh yang mau menjajah. Tetapi sesungguhnya kutu-kutu alat penjajah sudah banyak berkeliaran disekitar kita. Banyak orang yang mencoba menghalangi perjuangan kita.”
“Kutu-kutu itu harus kita bereskan!” seorang pemuda menimpali.
“Aku sudah dapat daftarnya, siapa-siapa yang menghalangi perjuangan,” ucap Burhan lagi.
“Kalo begitu, apa susahnya?” kata Mansur.
“Susahnya banyak,” Burhan menimpali lagi. “Kita banyak terikat dengan pertemanan dan tali persaudaraan, banyak yang terkait dengan orang tua dan kerabat.”
“Dalam perjuangan tidak ada orang tua, tidak ada saudara. Kalau memang menghalangi perjuangan, harus dimusnahkan. Kita cinta kepada tanah air, lebih dari cinta kita kepada diri sendiri. Kita sanggup mempertaruhkan nyawa untuk perjuangan.” kata Mansur lagi.
“Sebutkan satu persatu, siapa yang harus dibereskan itu ?” ucap salah seorang pemuda.
“Aku tidak yakin berguna atau tidak, kalau kusebutkan sekarang, sebab belum ketahuan apakah kalian percaya atau tidak, dan apakah kira-kira kalian berani mengerjakannya ?”
“Ini jaman revolusi. Dalam segala tindakan jangan seperti ayam betina. Penakut, nggak punya keberanian. Kita harus tegas, berani atau tidak ?” kata yang lainnya.
“Kalau begitu akan aku sebutkan.”

“Satu! Sumarta tukang kayu!”
“Setuju!” Kata yang lain. “Memang dia suka menghina perjuangan. Bahkan dia tidak mau membeli photo Bung Karno.”
“Kedua!, Lurah Amin. Ketiga!, Haji Kartobi…”

Mendengar nama itu semua diam. Tak ada yang bicara.
“…Bapakku?” kata Mansur.
“Iya, bapakmu!,” jawab Burhan dengan tegas. “Bukti-buktinya sudah ditemukan. Di dalam lencananya ada kain biru. Waktu di geledah, diperutnya ada cap NICA.”

Tidak ada yang berbicara. Semua diam.

“Kalian jangan ingkar dari sumpah,” kata Burhan mulai bicara lagi. “Kalian sudah bersumpah demi nusa dan bangsa, lebih cinta pada perjuangan dibandingkan cinta ke diri sendiri, ke orang tua, atau ke saudara. Dalam perjuangan tidak ada sanak, tidak ada keluarga, kalau ternyata menghalangi jalannya perjuangan, harus dibereskan! Sudah terbukti, Haji Kartobi mata-mata musuh.”

“Kalau memang begitu, harus dibereskan!” kata yang di pojok.
“Saya sanggup membereskannya!” kata yang di pintu.
“Jadi…, malam ini, Sumarta, Lurah Amin, dan Haji Kartobi harus dibereskan !”
“Setujuuu…!!” kata yang lain, serempak.
“Aku minta…” kata Mansur pelan.
“Apa yang mau diminta?” kata Burhan. “Asal jangan ingkar dari azas perjuangan.”
“Aku cinta pada perjuangan, serta cinta ke bapakku sendiri. Permintaanku, jangan ada yang berani membunuh bapakku. Kalau ada, pasti akan terjadi keributan di antara kita. Tentu aku akan balas dendam.”
“Maksudmu ?” Kata Burhan. “Kenapa mata-mata musuh harus dibiarkan hidup ? Hanya karena itu bapakmu ?”
“Jangan kasar begitu…” Kata Mansur. “Maksudku, aku sendiri yang akan menghabisinya, sebab dengan begitu tidak akan ada balas dendam. Tapi ada permintaan, mana buktinya!”
“Jangan terlalu banyak urusan. Ini bukan jaman aman. Kita nggak bisa berlama-lama. Bukti sudah cukup. Haji Kartobi mata-mata musuh ! Kalau kalian tidak berani, aku yang akan membereskannya! Kalau saudara Mansur mau balas dendam, silahkan saja, aku siap. Aku cinta pada perjuangan. Untuk itu, aku rela mengorbankan teman. Tapi aku juga percaya, Bung Mansur bukan agen NICA!”

“Diam!” teriak Mansur. Tubuhnya bergetar karena emosi. “Aku yang akan membereskan. Kalian yang menangkap. Aku tunggu di pinggir sungai!”
“Setuju ! Setuju !”
Para pemuda itu bubar.

***

Hujan semakin lebat. Keadaan makin gelap.

Suara Haji Kartobi terdengar khusyu membaca Yasin. Suaranya naik turun, seperti diiringi oleh suara air mengalir di atap rumah. Khusyu, sangat khusyu.
Kata-katanya –kata-kata arab yang tidak dimengerti- seperti meresap ke dalam tulang. Sangat meresap, sepertinya tidak akan semeresap itu kalau bahasanya bahasa kita sehari-hari. “…Kola ya waelana mambaatsana, mim markhodina-hadza ma waadar-rohmanu wasodakol-mursalun…”

Sangat terasa dan terbayangkan, ayat itu berarti : “Orang-orang bangun dari kubur, melirik ke kiri melirik ke kanan di alam akhir, sambil berkata : Siapa yang membangunkan Kami ? Ini yang dijanjikan oleh yang Maha Pemurah, sungguh benar para rasul.”

Meresap sekali. Waktu sampai pada sakat, diam sebentar sambil menarik nafas, hati bergetar, bergidik, bulu roma berdiri…

Ngajinya hampir selesai, yang menunggu di luar sudah tidak sabar.
Waktu selesai. “Dor! Dor! “ pintu digedor.
“Siapa itu ?” kata Haji Kartobi.
“Saya! Buka pintu!” kata yang di luar.

Tidak lama, pintu dibuka.

Duk! Pemukul mengenai kepala. Bruk! Haji Kartobi rubuh seketika, tidak sadarkan diri. Ingat-ingat sudah di pinggir sungai, karena terasa dinginnya angin yang bertiup, dan terdengar suara air mengalir. Sudah tidak berdaya . Diikat. Matanya ditutup.

“Mau diapakan aku ini?” dia bertanya.
“Jangan banyak cakap! Mata-mata musuh harus dihabisi!”
“A…Aku mau… dibunuh?” tanyanya putus-putus.
“Benar! Untuk kepentingan perjuangan.”
Haji Kartobi tidak menjawab.

“Mang Haji,” kata salah seorang. “Kalau Mamang mau berdo’a, silahkan sekarang saja. Mamang nggak bakalan lama lagi mendengar suara air mengalir, merasakan semilirnya angin.”
“Ternyata kamu, Run?” kata Haji Kartobi, hapal pada suara Harun, teman Mansur.
“Iya Mang, bukan tega, tapi keadaan yang memaksa.”
“Pingin ketemu dengan si Mansur, Run!” Haji Kartobi bicara lagi.
“Dia nggak ada di sini Mang!” jawab Harun.

Kemudian Haji Kartobi ngobrol dengan Harun, sambil menunggu dua korban lainnya datang.

“Ayo, Mang Haji, bersiap-siap,” kata Harun.
“Ya, ini memang sudah nasib Mamang. Harus mati tanapa sebab. Sudah ada ketentuannya. Cuma tolong sampaikan do’a Mamang buat si Mansur.”
“Tunduk!” teriak yang memberi komando. Haji Kartobi menunduk.
“Seperti mendengar suara anakku, si Mansur!” Dia bicara dulu.
Tidak sempat ada yang menjawab. Si Mansur bersiap-siap, pasang kuda-kuda…
Inna Lillahi wa inna ilaihi rodji’un… Mati dihukum tanpa ketahuan salahnya…

***

Perjuangan semakin lama semakin panas. Korban semakin banyak. Pemuda dari kampungku semakin berkurang, diminta oleh perjuangan. Si Burhan sudah lama meninggal, di gorok oleh temannya sendiri karena terlalu serakah.

Si Mansur masih tetap berjuang, tidak pernah berpisah dengan si Harun. Si Harun benar-benar setia pada amanat Haji Kartobi sebelum meninggal. “Jang , nitip anak Mamang !”

Suatu hari, dalam sebuah pertempuran yang sangat seru, tidak ketahuan dari mana datangnya, peluru mendesing mencari korban. Kena di dada si Harun. Mansur memburu. Sahabatnya di peluk.

“A…Aku ..ma…mau… ce..ri…ta… dulu…,” kata si Harun putus-putus.
Mansur tidak menjawab. Tangannya digunakan untuk menutupi dada si Harun yang penuh oleh darah.
“Kamu harus tobat, Sur!”
“Maksud kamu?” Tanya si Mansur.
“Sebenarnya bapak kamu meninggal tanpa kesalahan. Dulu aku nggak berani cerita, si Burhan mengancam mau membunuhku. Bapakmu meninggal karena dikhianati si Burhan. Dia ingin merebut harta bapakmu. Kamu harus tobat Sur!”

Cuma sampai situ, Harun meninggal. Tiada kekuasaan, dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Tubuh si Mansur bergetar, lari menuju kubur bapaknya. Sujud menangis tersedu-sedu di nisan bapaknya. Tidak mau pulang. Diam di kuburan. Tengah malam dia tengkurap. Menangis sedemikian sakitnya. Kalau bisa, mungkin dia sampai nangis darah.
Tidak jelas dari mana datangnya, tiba-tiba di hadapan dia ada sesosok mahkluk.
Tinggi besar dan serba putih..

Ketika Mansur bangun, mahkluk putih itu tertawa mengekeh. “Kamu yang membunuh bapak sendiri? Orang yang tidak mempunyai dosa?” bentaknya.
“Aku menjalankan perintah,” jawab Mansur. “Bapakku mata-mata musuh.”
“Ha…ha…ha..,” makhluk putih itu tertawa lagi. “Kamu tidak tahu, itu fitnah! Dosa kamu besar, anak membunuh bapak!”
“Bapakku mata-mata musuh! Bapakku mata-mata musuh !” jawab si Mansur.

Mahkluk itu mendekat. Si Mansur semakin gemetar.
Tangan mahkluk putih itu terulur. Mencekik leher si Mansur. Si Mansur berteriak……Keringatnya bercucuran, dia bangun. Mimpi yang sangat buruk!
Dia berdiri, wajah bapaknya terlintas dipikirannya, terlintas pula mahkluk putih itu. Mahkluk itu tertawa lagi, keras sekali. Meskipun menutup telinga, suara tawa itu tetap terdengar. “Kamu membunuh bapak! Kamu membunuh bapak!” Terdengar suaranya.
“Bapakku mata-mata musuh! Bapakku mata-mata musuh!” kata si Mansur berteriak sambil pergi. Tidak henti-henti, terus begitu, berteriak-teriak.

Setiap ingat dia berteriak: bapakku mata-mata musuh! Bapakku mata-mata musuh!
Anak-anak hanya senang mempermainkan dia.

* * * * * * * * *

Cerpen ini diterjemahkan secara bebas oleh Sony Herdiana. Judul asli Bapa Kuring Mata-Mata Musuh. Diterbitkan di Majalah Sunda no 15 thn II, 31 Mei 1953.

R.A.F, merupakan inisial dari Rachmatullah Ading Affandie, Lahir di Banjar Sari Ciamis, 2 Oktober 1929. Seorang penulis dan budayawan sunda yang aktif di banyak kegiatan. Mulai menulis sejak tahun 1948 di berbagai majalah dan surat kabar. Beberapa hasil karyanya sudah dipublikasikan dalam bentuk buku, diantaranya Tjarita Biasa (1959), dan Dongeng-dongeng Enteng Ti Pasantren (1961).

Di Atas Van Couver

Friends, actually, ini adalah cerpen pertama saya yang berhasil tembus media massa. Cerpen remaja, terbit di Majalah Anita Cemerlang sekitar bulan Juni 1994. Sudah cukup lama tapi mudah-mudahan masih asyik untuk dinikmati.



Diatas Van Couver

Cerpen : Sony ‘Asgar’ Herdiana


KALAU saja hari ini aku berjumpa dengan kamu, akan aku peluk kamu, kuciumi pipi dan keningmu, dan kuucapkan sejuta kata terima kasih, atau bahkan semilyar atau lebih banyak lagi mungkin. Kemudian kamu akan kubawa ke atas Van Couper. Berkeliling dunia. Tidak lagi hanya sampai Tanjung Harapan. Tidak lagi hanya empat belas hari. Tapi sepanjang tahun. Ya, sepanjang tahun.

Kamu nggak usah heran atau risi, itu semua kulakukan sebagai wujud rasa simpatiku yang teramat besar kepadamu. Dan mungkin rasa lain yang aku sendiri tidak pernah bisa mendefiniskan perasaan apa itu namanya.

Senin, 29 Juli 1998
Awal libur panjang musim panas yang membuatku uring-uringan. Pasalnya papaku yang diktator menjatuhkan vonis yang maha hebat atas diriku. Dua bulan terakhir, kiriman keuangan tidak pernah sampai ke tanganku. Sialan! Untungnya aku belum lama tinggal di metropolitan, London ini. Jadinya aku belum hapal tempat-tempat mewah yang akan menguras kantongku. Membuatku bisa sedikit ngirit. Tetapi tetap saja, hidup di metropolitan seperti London tidaklah semudah di kota Garut. Untuk mencukupi segala kebutuhanku, terpaksa aku mesti menggelandang di sudut-sudut kota sambil menenteng si Jepret, tustelku tersayang. Jepret sana, jepret sini. Jadi fotografer amatir.

Fotografer amatir. Karena itupula papaku menjadi murka. Papaku menginginkanku menjadi seorang ekonom, seorang bussinesmen. Katanya agar aku bisa meneruskan memimpin perusahaan yang akan diwariskannya. Maka aku dikirimnya ke London Scholl of Economics. Tapi sifat keras kepala papaku rupanya menurun kepadaku. Di London ini aku tidak mengambil ekonomi seperti keinginan papa. Aku malah menekuni fotografi, hobi yang sudah mendarah daging.

Dua bulan lalu papa baru mengetahuinya. Dan dua bulan berlangsung tanpa surat-menyurat, tanpa e-mail, tanpa interlokal. Semua jalur hubungan komunikasi diblokir, sepertinya aku dianggap tidak ada. Mulanya aku sempat miris juga melihat tindakan sewenang-wenang ini. Tapi tidak, sekaranglah aku harus membuktikan bahwa untuk hidup tidak hanya harus menjadi businessman, dengan menjadi seorang fotographer pun aku tidak akan hidup melarat. Aku harus membuktikan bahwa aku bisa hidup mandiri.
Rencanaku untuk libur di tanah air batal. Aku tak ingin melihat wajah-wajah sinis ditujukan buatku. Aku tak ingin mendengar makian Papa yang tak akan mungkin aku sangkal. Aku pikir, lebih baik jika aku ikut tour menjelajahi pantai barat Afrika. Lebih menyenangkan dan mungkin akan membantu mencairkan otak sumpekku. Dan hari ini, tiket tour itu sudah berada di tanganku.

Selasa 30 Juli 1998
Pagi yang cerah. Aku berdiri di geladak Van Couper, sebuah kapal tua yang asyik buat bertualang, sambil memandang deburan ombak yang datang silih berganti. Pelabuhan Liverpool hari ini terasa lebih ramai. Orang-orang bule dan sebagian kecil negro berlalu lalang. Sementara Van Couper semakin sarat dengan penumpang. Hari ini tour menjelajahi pantai barat Afrika akan dimulai.

Dari pengeras suara sayup-sayup kudengar seruan kapten kapal menyuruh para peserta tour memasuki ruang utama. Mungkin akan ada briefing sebelum kapal berlayar. Aku berjalan gontai menuju lambung Van Couper.

Deretan bangku di ruang utama itu sebagian sudah terisi. Aku mendapati wajah-wajah bule dan sebagian kecil tampang negro dibangku-bangku itu. Tak terlihat olehku raut Asia. Hanya aku seorang. Aku merasa sedikit menyesal, tapi segera kutepis dan meyakinkan diri bahwa akan lebih menyesal lagi jika aku pulang.

Kubenahi bawaanku. Lalu aku memilih tempat duduk. Dari pengeras suara terdengar kapten kapal berbicara. Lima menit lagi Van Couper akan melaut. Aku menarik nafas berat bersamaan dengan ekor mataku menangkap sosok seorang perempuan yang terburu-buru memasuki lambung Van Couper ini.

Perempuan itu berjalan ke arahku. T-Shirt putihnya basah oleh keringat, rupanya ia agak terlambat sehingga harus berjalan cepat-cepat. Dan beberapa detik kemudian ia sudah berdiri di depanku.

“Kursi di sebelahmu kosong?” tanyanya dengan Inggris yang berlogat asing di telingaku. Aku tidak bisa memastikan dari mana cewek ini berasal.
“Yes…,” jawabku pendek.
“May I sit down here?”
Aku hanya memberikan sebuah anggukan.
“Thanks…,” ia berterima kasih. Lalu segera menjatuhkan pantatnya di kursi sebelahku.

Van Couper sudah bergerak beberapa menit yang lalu. Tetapi aku masih belum bisa memastikan asal cewek berhidung bangir di sampingku ini.

“Saya Veronica, tapi panggil saja Vera,” cewek itu mengangsurkan tangan kanannya. Mendengar nama itu sebenarnya aku ingin mengolok-oloknya dengan bertanya ‘Oh, mbak yang bekerja di Telkomsel itu ya?’, tapi karena aku yakin dia tak akan mengerti dengan joke itu jadinya aku langsung menjabat erat tangannya seraya menyebut nama.
“Prasetyo.”
“Pra-set-yo…” cewek bernama Veronica itu mengeja namaku. “That’s good name. saya menyukainya.”
“Thanks,” ucapku.
“Kamu pasti dari Asia.”
“Tebakan yang tepat. Indonesia.”
“Ouw, Indonesia? Negeri indah berpulau banyak itu? Saya pernah dua kali mengunjunginya.”
“Oh ya?”
“Ya, menaklukan puncak Jaya Wijaya dan mengunjungi Bandung, tempat kelahiran papaku. Papaku punya darah Indonesia dari ibunya dan darah Belanda dari bapaknya. Sedangkan mamaku menurunkan darah Italia padaku.”
“Oooooh, kamu gadis gado-gado toh, pantesan aku sulit untuk menebak asalmu,” ucapku dengan logat jawa yang medok. Veronica tersenyum-senyum mendengarnya.
“Aku dibesarkan di Italia.”
“Negeri pizza itu? Masih sodara dong sama Fransesco Totti.”
“Tidak! Saya pacarnya Alexandro Del Piero.”
“Oooooh…!”

Mata Veronica membulat, lalu kami tertawa bareng-bareng.

Kamis, 1 Agustus 1998
Bulan yang bersinar penuh dan semilir angin yang seolah membelai-belai telah membuatku betah berlama-lama berdiri di geladak Van Couper. Apalagi aku ditemani seorang gadis cantik bernama Veronica. Yang walaupun baru kukenal dua hari yang lalu aku sudah merasa akrab dengannya. Gaya bahasanya yang asing dan ngomongnya yang rame membuatku cepat menyukainya. Apalagi dia memiliki wajah campuran yang enak untuk dipandang. Hidungnya yang bangir, matanya yang bening, dan rambutnya yang hitam berhasil mengurangi sedikit kesumpekkan otakku.

Dan ya, itu kamu. Kamu yang kini membuatku rindu. Kamu yang selalu melintas di pikiranku. Yang berasal dari Italia. Yang berdarah gado-gado. Yang ngomongnya rame…

“Kok bengong?” kamu mengusik keasyikanku menghayati keindahan laut di malam hari.
“Aku sedang mengaggumi ciptaan Tuhan,” ucapku pelan.
“Ya, akupun seorang pengagum keindahan. Aku sering naik ke puncak gunung, dan wouw..! Itulah surga dunia versiku. Tenang, damai, aku merasakan kepuasan yang tidak terkirakan.” Kamu berkata-kata panjang lebar.
“Kamu suka naik gunung?”
“Ya, aku biasa naik gunung bersama saudara-saudaraku.”
“Sekarang kok sendirian?”
“Saudara-saudaraku sedang menaiki Aconkagua,” kamu berhenti sesaat. “Aku lagi kepingin merasakan suasana yang lain, suasana laut. Dan coba kamu tebak? aku semakin senang, karena aku jumpa kamu,” lalu kamu tertawa ringan, akupun tertawa. Ada sedikit rasa tersanjung mampir di dadaku.
“Jangan begitu ah, aku jadi nggak enak,” ucapku dengan wajah pura-pura malu. Kamu memukul bahuku pelan.
“By the way, tidak takut pergi sendirian?”
Kamu mendelik ke arahku.
“Jangan dikira ya, aku pemegang sabuk hitam karate lo. Kalau ada yang coba mengganggu, mawashi gery-ku akan menghajar wajahnya. Kamu mau coba?” katamu berapi-api, tangan kananmu terkepal.
"Tidak, tidak…, aku hanya bisa Jaipong,” kataku. Kamu mendelik lagi. Dan beberapa detik kemudian tawa kitapun pecah.

Aku merapatkan mantel. Syal yang melilit di leherku semakin kuperketat. Udara kurasa semakin dingin. Angin berhembus dari utara. Aku merapatkan jari lalu kusimpan di depan mulut. Batuk-batuk kecil keluar dari mulutku. Sebuah sapu tangan segera menyekanya.

“Kamu sakit…?” kamu bertanya padaku saat itu. Lalu kujawab tidak. Tapi kamu tidak percaya dan menyuruhku beristirahat.
“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang keki gara-gara surat cintaku nggak dibalas-balas oleh Britney Spears.”
Kamu tertawa-tawa mendengar penuturanku. Tetapi aku tidak. Batuk-batuk kecil kembali menggangguku.

Sabtu 3 Agustus 1998
Gara-gara aku tak mengacuhkan saran kamu, aku kini harus berbaring di atas tempat tidur. Tubuhku terasa lemas. Seluruh sendi-sendiku terasa berlolosan. Memang benar katamu, waktu itu aku merasa sakit. Tapi gara-gara kamu juga, aku merasa betah berdiri di atas geladak.

Pintu kamar terdengar diketuk. Aku melipat majalah yang sedang kubaca.

“Masuk,” kataku. Lalu aku melihat senyum kamu tersembul dibalik daun pintu. Sungguh aku suka senyum kamu itu.
“Sudah baikkan?” kamu bertanya.
“Belum,” jawabku. “Aku takut disuntik.”
Kamu tertawa mendengarnya. Satu lagi yang aku suka dari kamu, tawa kamu itu.
“Ini aku bawakan makanan buat kamu. Prasetyo harus makan banyak. Biar cepat sembuh. Nanti kita ngobrol lagi.” Itu yang kamu katakan, seperti seorang ibu yang sedang memanjakan anak kesayangannya. Dan karena itu, aku menjadi sangat bersyukur bisa jumpa dan kenal dengan kamu. Rasa simpati menyembul perlahan-lahan dari relung hatiku. Aku tersenyum sendiri di dalam hati…

Rabu, 7 Agustus 1998
Van Couper sudah sembilan hari melaut. Kondisiku masih belum pulih juga. Beberapa kali aku melewatkan jadwal jalan-jalan ketika Van Couper singgah di kota-kota pantai yang dilalui rute tour ini. Cukup kusesali, meskipun aku lebih menyesal lagi karena tidak bisa berdiri berlama-lama lagi di atas geladak sambil berbincang dengan kamu, mendengarkan celoteh kamu, dan mendengarkan tawa kamu sambil menikmati indahnya alam.

“Prasetyo belum sembuh benar. Prasetyo harus banyak istirahat,” kamu mengingatkanku.
“Aku tidak sakit.”
“Prasetyo memang tidak sakit, tapi Prasetyo capek. Kata dokter, Prasetyo harus banyak istirahat. Obatnya sudah diminum?”

Aku menggelangkan kepala diikuti oleh gelengan kepala juga dari kamu.

“Prasetyo tidak boleh begitu. Prasetyo harus minum obat.”

Lalu kamu berdiri. Menghampiri meja dimana obat-obatku tersimpan. Segelas air putih di tangan kanan dan beberapa butir obat di tangan kiri kamu bawakan untukku. Aku tidak bisa menolak ketika kamu memasukkan zat-zat kimia itu ke mulutku dan membasahi kerongkonganku dengan air putih yang tadi kamu bawa. Rasanya aku ingin menangis. Sebelumnya aku tak pernah mendapatkan perhatian yang begini besar. Bahkan dari kedua orang tuaku. Mama dan Papa terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing.

“Prasetyo terlalu banyak pikiran, tubuh Prasetyo lemah jadinya. Prasetyo harus mengikuti semua anjuran dokter, supaya Prasetyo cepat sembuh.”

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus menangis, harus tertawa atau tersenyum-senyum. Tetapi yang aku tahu, aku tidak bisa berdusta. Aku tidak bisa membohongi kamu, Veronica. Dan semua yang ada di kepalaku, semua yang jadi pikiranku meluncur dengan mulus. Kamu hanya terdiam mendengarkan apa yang aku ucapkan dengan seksama. Sungguh! Kamulah pendengar terbaik yang pernah aku temukan. Kamu mau mendengar semua keluh kesahku. Kamu mau menampung semua yang jadi beban pikiranku.

Kamu menghela nafas panjang begitu aku selesai membeberkan semua yang ada dan menjadi problemaku. Kamu terdiam beberapa saat. Lalu mulai berkata-kata.

“Prasetyo jangan menganggap masalah Prasetyo itu sebagai suatu beban, tapi harus menganggapnya sebagai tantangan yang harus di taklukan. Maksud papa Prasetyo mungkin baik, tetapi kalau memang Prasetyo mempunyai pemikiran yang lain Prasetyo boleh kok menolaknya, tapi Prasetyo harus bisa memberika bukti dan keyakinan pada Papa Prasetyo bahwa apa yang Prasetyo lakukan itu untuk kebaikan juga.” Kamu berkata-kata panjang lebar.

“Dulu saya juga dilarang naik gunung,” kamu mulai berkata-kata lagi. “Tapi saya terus berusaha meyakinkan Papa dan Mama bahwa apa yang saya lakukan adalah untuk kebaikan saya juga. Saya memberi bukti bahwa saya baik-baik saja, bisa menjaga diri, dan akhirnya malah menjadi kebanggaan negara karena kegiatan saya bisa menjadi promosi yang baik bagi negara. Mama dan papa akhirnya mau memahami. Dan kini Vera bisa bebas naik turun gunung tanpa hambatan.” Kamu jeda beberapa saat. Aku diam menunggu kata-kata kamu selanjutnya.

Seperti biasa, kamu menarik nafas sebelum melanjutkan kata-kata.

“Atau Prasetyo mau mencontoh Antonio, kakak saya. Ia seorang wartawan hebat di Italia. Pada mulanya Papa melarang Antonio menjadi wartawan. Tetapi Antonio tidak mau menyerah, ia terus melanjutkan sekolahnya. Antonio terus membujuk papa dengan memperlihatkan prestasi yang ia capai selama kuliah. Ia lulus dengan predikat cum laude. Tak lama kemudian ia diangkat menjadi seorang wartawan di sebuah surat kabar. Papa agak sedikit berubah, dan ia malah balik membanggakan Antonio karena beberapa bulan kemudian Antonio terpilih sebagai wartawan muda terbaik di negeri kami.” Lagi-lagi kamu menghentikan kata-kata.

“Prasetyo bisa mencontoh Antonio. Kalau Prasetyo bisa meraih Pulitzer misalnya, Papa kamu pasti akan merasa bangga. Jadi Prasetyo jangan merasa berkecil hati. Banyak jalan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi Prasetyo.”

Aku tidak mampu berkata-kata seperti yang kamu lakukan. Aku hanya mampu menggerakkan tanganku. Menggenggam jemarimu. Aku merasakan lidahku kelu, bibirku bergetar.

“Kamu baik sekali,” hanya itu yang bisa aku ucapkan saat itu. Aku sangat berbahagia sekali bisa jumpa dan kenal dengan kamu. Yang sangat baik, sangat perhatian, mau berbagi rasa dan memberiku rasa haru. Simpatiku makin membesar dan akan terus membesar.

Kamu mendesah. Aku tahu kamu jengah karena pujianku tadi. Tapi kamu memang pantas mendapatkan pujian itu, bahkan seharusnya lebih dari itu.

Kamu berdiri. Mengambil majalah yang tergelat di atas meja. Duduk lagi di sampingku dan kita sama-sama membuka majalah itu.

“Sekarang kita bicara yang indah-indah saja…” Lalu seperti seorang bapak yang sedang mendongeng untuk menidurkan anaknya, kamu mulai membaca sebuah cerita. Pada suatu ketika tersebutlah….


Senin, 12 Agustus 1998
Empat belas hari sudah aku bersama Van Couper, dan tentunya juga bersama kamu. Van Couper besok akan merapat di Tanjung Harapan. Tetapi kondisiku masih belum pulih seratus persen. Kata dokter aku masih harus beristirahat di atas tempat tidur.

Tetapi aku memang bandel, tak mengindahkan nasehat dokter, tak mengindahkan peringatanmu. Aku memaksa untuk berdiri berlama-lama di atas geladak. Kamu bersusah payah mengingatkanku akan kondisi yang belum prima. Kamu menyuruhku untuk kembali ke tempat tidur. Tapi semua usaha kamu sia-sia. Aku tetap memaksa untuk berdiri berlama-lama di atas geladak, bercanda dengan angin laut.

Akhirnya kamu menyerah. Kamu membiarkanku berdiri berlama-lama. Tetapi kamu tetap menyertaiku. Menemaniku berbincang. Menemaniku beradu tawa. Menemaniku bermain-main dengan angin-angin genit yang tak pernaha berhenti bertiup. Angin-angin jahat yang membuatku terbatuk-batuk. Yang membuat kamu langsung merasa khawatir dan menyuruhku cepat-cepat masuk kamar. Tapi aku memang keras kepala. Lagu-lagi aku tak mengindahakan kebaikanmu. Dan lagi-lagi kamu menyerah.

Namun akibatnya tubuhku menjadi ambruk. Semalaman demam menyerangku. Dan kali ini agaknya sakitku lebih serius dibanding sebelumnya. Sehingga aku dilarikan ke sebuah rumah sakit ketika Van Couper merapat. Kamu menyertaiku dengan setia. Kulihat wajah kamu mengandung kesedihan saat itu. Aku tak tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Tapi aku yakin, kamu sedang mengkhawatirkan diriku.

Kamu menemaniku semalaman. Waktu itu kita berbincang lama sekali. Meskipun aku merasa kamu agak kurang suka karena beberapa kali aku mengabaikan saranmu untuk cepat tidur. Meskipun akhirnya aku tertidur juga.

Rupanya tidurku sangat pulas. Aku terbangun tepat ketika jarum jam yang menempel di dinding menunjukkan angka sembilan. Di meja aku melihat sepotong roti dan segelas susu. Juga sebuah vas bunga yang di tata dengan manis. Tetapi aku tidak melihat kamu.

Pintu kamar terbuka. Seorang suster masuk. Ditangannya ada seikat kembang.

“Nyenyak tidurnya Pak?” suster itu menyapaku. “Nona yang semalam menemani anda menitipkan ini buat anda,” suster itu menyerahkan kembang yang ada di tangannya.

Rupanya kembang itu dari kamu. Di dalamnya kudapati sepucuk surat bersampul biru muda. Kamu tahu, aku tak berlama-lama lagi, langsung membuka surat kamu itu.

Isinya singkat saja. Kamu mengingatkanku untuk jangan berkecil hati, kamu bilang masalahku akan segera dapat aku selesaikan. Kamu juga mengingatkanku agar selalu menuruti nasehat dokter. Kamupun mengatakan bahwa kamu sangat senang dan sangat berbahagia bisa jumpa denganku, katamu, kamu menyukaiku. Dan akhirnya kamu meminta ma’af karena kamu tidak bisa menemuiku. Katamu, kamu tidak tega membangunkanku yang sedang terlelap dan satu sebab lainnya, kamu tidak sanggup untuk mengucapkan kata selamat tinggal. Katamu, kamu harus cepat-cepat kembali ke Italia. Aku tak tahu untuk alasan apa.

Kamu tahu, saat itu rasanya aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Menghabiskan semua air mata yang ada padaku. Tapi akhirnya aku menyadari. Kamu tak akan pernah mendustaiku, meskipun aku merasa sedikit kecewa, kamu tidak meninggalkan alamat atau nomer kontak apapun. Tapi terus terang, rasa simpatiku tak akan berkurang hanya karena itu. Kamu telah menanamkannya teramat dalam. Atau ini yang dikatakan cinta?

Sabtu, 9 November 1998
Hujan turun sangat lebat. November Rain.

Veronica, kamu harus tahu, saat ini aku sedang tidur-tiduran. Di telapak tanganku tersimpan gambarmu yang dulu aku buat. Kamu sedang tertawa. Sungguh sangat cantik kamu, aku mengaguminya. Lebih-lebih pada sikapmu. Aku sangat terkagum-kagum.

Veronica, benar semua kata-katamu. Nasehatmu sungguh-sungguuh sangat berguna. Kamupun harus tahu, aku kini sudah berbaikan dengan papa. Semua itu berkat kamu, Veronica. Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Hanya dengan tulisan ini aku dapat melakukannya.

Veronica aku kini lebih tekun belajar. Aku ingin seperti kakamu, Antonio. Dan seperti katamu, Pulitzer akan kuraih untuk kupersembahkan kepadamu. Cewek terbaik yang pernah kutemukan dalam hidupku.

Veronica, di telapak tanganku kini tersimpan gambarmu yang dulu aku buat. Kamu sedang tertawa. Dan kamupun harus tahu, gambar itu akan selalu bersamaku.***